Perlindungan Hukum Terhadap Suami yang Menjadi Korban KDRT yang Dilakukan oleh Istri Ditinjau dari Hukum Pidana
DOI:
https://doi.org/10.55681/sentri.v4i10.4668Keywords:
domestic violence, legal protection, victimsAbstract
This study aims to evaluate the implementation of legal protection for husbands who become victims of Domestic Violence (DV) committed by their wives, with a case study in Medan City. The research focuses on the application of Law Number 23 of 2004 concerning the Elimination of Domestic Violence, the motives of wives as perpetrators, and the legal protection provided to husbands as victims. Using a normative approach, this study relies on secondary data from legislation, legal doctrines, and relevant case analyses. The findings show that Law Number 23 of 2004 explicitly provides legal protection for all DV victims, regardless of gender, including husbands. The law guarantees victims’ rights to physical protection, legal assistance, healthcare, and social rehabilitation. The motives of wives committing DV against their husbands may include dominance, frustration, revenge, or economic stress. In some cases, such acts arise from attempts to control the partner or express unresolved emotional distress. The analysis of household dynamics reveals that power imbalance, unresolved conflicts, and past trauma are common triggers of violent behavior. Legal frameworks ensure husbands’ rights to report violence and access protection and rehabilitation services. Law enforcement agencies and relevant institutions such as the Witness and Victim Protection Agency (LPSK) and the Integrated Service Center for the Empowerment of Women and Children (P2TP2A) play an essential role in guaranteeing that male victims receive appropriate and equitable protection under the law.
Downloads
References
Achmad, A. (2009). Menguak tabir hukum: Suatu kajian filosofis dan sosiologis. Prenada Media.
Alimi, R., & Nurwati, N. (2021). Faktor penyebab terjadinya kekerasan dalam rumah tangga terhadap perempuan. Jurnal Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (JPPM), 2(2), 211.
Amrani, H., & Ali, M. (2015). Sistem pertanggungjawaban pidana. Rajawali Pers.
Chazawi, A. (2018). Pelajaran hukum pidana bagian I. PT RajaGrafindo.
Fattah, D. (2013). Teori keadilan menurut John Rawls. Jurnal TAPIs, 9(2), 34.
Friedman, L. M. (1975). The legal system: A social science perspective. Russell Sage Foundation.
Hadjon, P. M. (2007). Pengantar hukum administrasi Indonesia. Gadjah Mada University Press.
Hamzah, A. (2017). Hukum pidana Indonesia. Sinar Grafika.
Hanafi, M. (2015). Sistem pertanggung jawaban pidana. Rajawali Pers.
Huda, C. (2006). Dari tindak pidana tanpa kesalahan menuju kepada tiada pertanggung jawab pidana tanpa kesalahan (Cet. ke-2). Kencana.
Indrawati, E. S. (2018). Pemberdayaan keluarga dalam perspektif psikologi. Penerbit Fakultas Psikologi Undip.
Iqbal, M. (2019). Psikologi kekerasan. Gramedia.
Iswara, I. M. A. M. (2018). Penyelesaian perkara tindak pidana kekerasan dalam rumah tangga. Adab.
Jainah, Z. O. (2018). Kapita selekta hukum pidana. Tira Smart.
Kansil, C. S. T. (1989). Pengantar ilmu hukum dan tata hukum Indonesia. Balai Pustaka.
Komnas Perempuan. (2022). Laporan tahunan kekerasan dalam rumah tangga.
Kurniawan, L. S. (2015). Refleksi diri para korban dan pelaku kekerasan dalam rumah tangga. Andi.
Kurniawan, L. S. (2021). Refleksi diri para korban dan pelaku kekerasan dalam rumah tangga. Deepublish.
Lembaga Bantuan Hukum Indonesia. (2021). Peran LBH dalam melindungi korban KDRT.
Mahfud MD. (2011). Politik hukum di Indonesia. Rajawali Pers.
Mansyur, R. (2018). Mediasi penal terhadap perkara KDRT. Yayasan Gema Yustisia Indonesia.
Meidianto, A. D. (2020). Alternatif penyelesaian perkara kekerasan dalam rumah tangga. Deepublish.
Mubarok, A. (2016). Psikologi keluarga. Penerbit Madani.
Nebi, O. (2018). Hukum kekerasan dalam rumah tangga: Perspektif teori perlindungan hukum. CV Azka Pustaka.
Pengadilan Negeri Medan. (2020). Kasus A.N. vs I.N.
Republik Indonesia. (2004). Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan dalam Rumah Tangga.
Republik Indonesia. (2006). Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2006 tentang Perlindungan Saksi dan Korban.
Saleh, R. (1983). Pikiran-pikiran tentang pertanggung jawaban pidana. Ghalia Indonesia.
Santoso, A. B. (2019). Kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) terhadap perempuan: Perspektif pekerjaan sosial. Komunitas, 10(1), 39–57.
Soekanto, S. (1983). Faktor-faktor yang mempengaruhi penegakan hukum. Rajawali Press.
Subroto, J. (2018). Kekerasan dalam rumah tangga. Gramedia.
Sunarso, S. (2022). Viktimologi dalam sistem peradilan pidana. Sinar Grafika.
Suroso, M. H. (2012). Kekerasan dalam rumah tangga dalam perspektif yuridis-viktimologi. Sinar Grafika.
Susanti, V. (2018). Perempuan membunuh?: Istri sebagai korban dan pelaku KDRT. Gramedia.
Syamsudin, M. (2012). Kontruksi baru budaya hukum hakim berbasis hukum progresif (Edisi ke-2). Kencana.
Wisnubroto, A., & Widiartana, G. (2021). Menuju hukum acara pidana. PT Citra Aditya Bakti.
Yulia, R. (2013). Viktimologi perlindungan hukum terhadap korban kejahatan. Graha Ilmu.
Downloads
Published
How to Cite
Issue
Section
License
Copyright (c) 2025 Rafnila Lubis, Kusbianto Kusbianto, Ariman Sitompul

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.





