https://ejournal.nusantaraglobal.ac.id/index.php/memace/issue/feedMEMACE: Jurnal Linguistik, Pendidikan Bahasa Indonesia, dan Asing2026-06-10T06:15:07+00:00Hendri memace@nusantaraglobal.ac.idOpen Journal Systems<p><strong>MEMACE: Jurnal Linguistik, Pendidikan Bahasa Indonesia, dan Asing</strong> is an journal containing research articles in several fields, namely: (1) teaching Indonesian language and local, regional and foreign languages; (2) Indonesian, regional and foreign linguistics; and (3) Indonesian, regional and foreign literature. <em>MEMACE: Jurnal Linguistik, Pendidikan Bahasa Indonesia, dan Asing</em> can be reserved for researchers, academics, professionals, practitioners, and students to deliver the results of his research in the form of research articles.</p> <p><em>MEMACE: Jurnal Linguistik, Pendidikan Bahasa Indonesia, dan Asing</em> can have <strong><a href="https://issn.brin.go.id/terbit/detail/20230324340027516" target="_blank" rel="noopener">E-ISSN 2986-7193</a></strong>. First published in March 2023 by Indonesian Language Education Program, Institut Pendidikan Nusantara Global. <em>MEMACE: Jurnal Linguistik, Pendidikan Bahasa Indonesia, dan Asing</em> will regularly be published four times a year in March, June, September, and December. </p>https://ejournal.nusantaraglobal.ac.id/index.php/memace/article/view/6003ANALISIS KESALAHAN INTRALINGUAL SISWA DALAM BAHASA MANDARIN MELALUI TRANSKRIPSI2026-03-09T02:12:58+00:00Williams Wijayawilliamswijaya.res@gmail.comT. Kasa Rullah Adhakasa@usu.ac.idNiza Ayuningtiasniza@usu.ac.id<p>Penelitian ini mengkaji kesalahan intralingual siswa dalam mentranskripsi audio <em>listening section</em> HSK IV melalui pendekatan <em>error analysis</em>. Fokus utama penelitian adalah mengidentifikasi kesalahan performatif dan dampaknya secara semantik kognitif. Hasilnya menunjukkan bahwa siswa dominan menghasilkan <em>full</em> dan <em>partial transcription</em>. Pada aspek performatif, <em>misformation</em> menjadi kesalahan yang paling dominan, diikuti <em>addition</em> dan <em>omission</em>, yang seringkali muncul bersamaan. Secara semantik kognitif, kesalahan dipicu oleh ketidaktelitian dan keterbatasan pemetaan kosakata siswa yang merusak makna ujaran. Penelitian ini juga membuktikan bahwa penggunaan teknologi pengetikan tidak mengeliminasi kesalahan linguistik, mengingat hambatan utama terletak pada pemahaman fonetik dan struktur bahasa. Temuan ini diharapkan berkontribusi dalam merancang evaluasi dan pengajaran bahasa Mandarin yang lebih efektif.</p>2026-03-29T00:00:00+00:00Copyright (c) 2026 Williams Wijaya, T. Kasa Rullah Adha, Niza Ayuningtiashttps://ejournal.nusantaraglobal.ac.id/index.php/memace/article/view/3617THE EFFECT OF ENGLISH AS AN OPTIONAL SUBJECT AT ELEMENTARY SCHOOL TOWARDS JUNIOR HIGH SCHOOL ENGLISH PRODUCTIVE SKILL (A Study at SMPN 26 Kota Serang)2026-06-10T04:42:38+00:00Rachmatiarachmatia022@gmail.comNurhaeda Gailearachmatia022@gmail.comEri Rahmawatirachmatia022@gmail.com<p>The text of the 2022 National Education System draft law in August in article 81, paragraph 1, explains that English is an optional subject at elementary school and reaps many cons. English has a significant role in helping the next generation of Indonesians to grow up better academically, especially in productive speaking and writing skills. Of this problem, the researcher wanted to seek out the effect of English as an optional subject in elementary school on junior high school English productive skill. The researcher used a mixed method with the ex-post facto design, where quantitative data were processed before qualitative data. Questionnaires, interviews, and open-ended tests were used to gain the data. All the data analyses were counted on SPSS. The respondents were 45 students at SMPN 26 Kota Serang with criteria for 7th-grade JHS students who previously had English as an optional subject. The results showed negative and non-significant simultaneous effects between learning English as an optional subject at Elementary school towards Junior High School students’ English productive skills with an f-value of 0.154 with a significance value of 0.858 (far above 0.05). The students struggled to improve their speaking and writing skills in junior high school due to the lack of active practice opportunities. This results in a lack of foundational English skills and difficulty meeting higher standards at Junior High School.</p>2026-03-29T00:00:00+00:00Copyright (c) 2026 Rachmatia, Prof. Dr. Hj. Nurhaeda Gailea, Eri Rahmawati, M.Ahttps://ejournal.nusantaraglobal.ac.id/index.php/memace/article/view/6433An Analysis of English Learning Content on YouTube for EFL Learners: A Focus on Speaking Skills Study at MTs N Kota Sorong2026-06-10T06:15:07+00:00Putri Lestariputriayulesstri@gmail.com<p>Digital tech has exploded lately, completely changing how people learn English as a foreign language with YouTube leading the charge as a top player. This article takes a close look at English content on YouTube, zeroing in on how it helps EFL students build speaking skills, spotlighting kids from MTs N Kota Sorong as a key example within Indonesia's wider EFL scene. Pulling from past studies and in-depth reviews, it breaks down YouTube's boost to pronunciation work, chat skills, fluency, and overall confidence. The results make it clear: the platform delivers genuine spoken English, engaging multi-format lessons, and chances for self-guided practice, turning it into a solid sidekick for speaking growth. That being said, issues like uneven video quality, lack of direct feedback, and the need for student discipline still pop up. Overall, the paper spells out practical teaching takeaways for using YouTube to level up speaking abilities in EFL settings.</p>2026-03-29T00:00:00+00:00Copyright (c) 2026 Putri Lestarihttps://ejournal.nusantaraglobal.ac.id/index.php/memace/article/view/6626Kesantunan Tindak Tutur Direktif Dalam Pembelajaran Teks Argumentasi Kelas IX SMP IT Zurriyatul Qurani Ma’arif2026-06-10T04:36:49+00:00Indah PurmasariIpurmasari11@gmail.comhusina humairahusinahumaira50@gmail.comMuhammad Bagus Bagaskoro Angkasahusinahumaira50@gmail.com<p>Penelitian ini mengkaji bentuk tindak tutur direktif dan strategi kesantunan berbahasa dalam pembelajaran teks argumentasi kelas IX SMP IT Zurriyatul Qurani Ma’arif melalui kegiatan debat. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi jenis tindak tutur direktif yang digunakan serta menganalisis strategi kesantunan yang menyertainya dalam interaksi pembelajaran. Metode yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan teknik pengumpulan data berupa observasi, rekaman, dan dokumentasi tuturan siswa. Data dianalisis menggunakan pendekatan pragmatik dengan mengacu pada teori tindak tutur dan kesantunan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat lima bentuk tindak tutur direktif, yaitu perintah, permintaan, ajakan, saran, dan permintaan izin, dengan total 20 data. Bentuk yang paling dominan adalah ajakan, sedangkan perintah dan permintaan izin paling sedikit ditemukan. Dari segi strategi kesantunan, penggunaan tindak tutur direktif didominasi oleh kesantunan positif, diikuti kesantunan negatif, strategi tidak langsung, dan penggunaan langsung yang terbatas. Temuan ini menunjukkan bahwa pembelajaran teks argumentasi berlangsung secara persuasif, partisipatif, dan tetap menjunjung tinggi etika komunikasi. Dengan demikian, tindak tutur direktif tidak hanya berfungsi sebagai pengarah interaksi, tetapi juga sebagai strategi retoris dan pedagogis dalam mendukung kemampuan berpikir kritis dan komunikasi santun siswa.</p>2026-03-29T00:00:00+00:00Copyright (c) 2026 Indah Purmasari, husina humaira, Muhammad Bagus Bagaskoro Angkasahttps://ejournal.nusantaraglobal.ac.id/index.php/memace/article/view/5553PEMBINGKAIAN SEKSISME DALAM BAHASA POLITIK LEGISLATIF: ANALISIS DISKURSIF-HISTORIS 2026-06-10T04:22:13+00:00Anatasya Solin Indah Duniandanaanatasyasi@upi.eduUndang Sudanaundangsudana@upi.edu<p><span style="font-weight: 400;">Bahasa politik dalam forum legislatif mereproduksi relasi kuasa dan legitimasi nilai tertentu. Penelitian ini bertujuan menganalisis negosiasi seksisme dalam ujaran anggota DPR RI pada rapat Komisi X tanggal 5 Maret 2025 serta dalam respons institusional Komnas Perempuan. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan kerangka Analisis Wacana Kritis, khususnya Pendekatan Diskursif-Historis (</span><em><span style="font-weight: 400;">Discourse-Historical Approach</span></em><span style="font-weight: 400;">/DHA) yang dikembangkan oleh Ruth Wodak. Data penelitian berupa klausa dan kalimat yang dikutip dari pemberitaan media daring dan dokumen resmi Komnas Perempuan. Analisis difokuskan pada strategi diskursif yang mencakup penamaan, predikasi, argumentasi, perspektivisasi, serta intensifikasi dan mitigasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa seksisme dalam wacana legislatif direproduksi secara implisit melalui generalisasi terhadap perempuan, pembatasan peran sosial, serta argumentasi berbasis budaya, utilitas, dan legitimasi simbolik. </span></p>2026-03-29T00:00:00+00:00Copyright (c) 2026 Anatasya Solin Indah Duniandana, Undang Sudana